Kerja di Jepang 5 : Jadi ANAK BENGKEL di Tokyo
Saat ini aku dan isteriku tinggal di daerah Kanagawa, dekat kota Tokyo. Isteriku bekerja sebagai WEB-Designer di daerah Shibuya, Tokyo. Aku sendiri bekerja di perusahaan yang bidang usahanya adalah 'ASHIBAYASAN' (=SCAFFOLDING-RENTAL/Penyewaan Alat2 PERANCAH BANGUNAN). Perusahaan cukup besar dengan cabang2 perusahaan (Center) ada di Sendai, Niigata, Nagoya, dll.
Peralatan SCAFFOLDING (Perancah Bangunan) yang disewakan ber-macam2 ukuran dan bentuk serta kegunaan, yang semuanya terbuat dari pelat besi dan pipa besi serta aluminium. Truk2 besar milik perusahaan dan juga truk2 milik perusahaan 'GEMBA' (=DEVELOPER/Konstruksi) penyewa alat2 SCAFFOLDING datang tiap hari memuat atau menurunkan peralatan SCAFFOLDING yang akan disewa atau yang akan dikembalikan. Peralatan SCAFFOLDING yang telah dikembalikan akan di-cek, diperbaiki dan di-servis untuk disewakan lagi.
Jam kerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore tapi biasanya lembur hingga jam 7 malam. Hari Sabtu pun adalah hari kerja sehingga hari Minggu saja libur. Karena harus 3x naik dan pindah kereta api, maka biasanya aku bangun pagi jam 5:30 dan berangkat kerja jam 6:15. Pulang kerja sampai di rumah sekitar jam 9 malam.
Pekerjaanku sebenarnya adalah di bagian 'SEBI' (=MAINTENANCE/Perawatan dan Pengecekan) alat2 Scaffolding. Tapi karena saat ini perusahaan kekurangan pekerja maka aku juga 'dipekerjakan' di bagian 'KASUNASI' (=Pendataan barang2 dengan alat 'SENSOR' dan Komputer) serta sebagai 'FORKMAN' (Mengemudi kendaraan FORKLIFT). Pekerjaan 'SEBI' (Maintenance/Perawatan) memerlukan kekuatan fisik karena mengangkat dan men-servis peralatan Scaffolding yang lumayan berat berbentuk pelat dan pipa besi berukuran besar. Pekerjaan 'KASUNASI' (=Pendataan barang2) memerlukan pengetahuan membaca dan menulis hurup KANJI Jepang serta menghapal nama2 dan nomor2 kode barang2.
Pekerjaan sebagai 'FORKMAN' (Mengemudi kendaraan FORKLIFT) aku harus mengenakan HELMET (Topi Helm Pengaman) untuk menghindari kecelakaan kerja saat mengemudi kendaraan FORKLIFT untuk mengangkut barang2 SCAFFOLDING yang berat2.
Para pekerja terdiri dari orang2 Jepang dan orang asing. Tentu saja bahasa se-hari2 adalah bahasa JEPANG
Setelah 5 tahun di kota Kyoto bekerja di perusahaan yang pekerjanya orang2 Jepang semua sehingga sering 'kesepian', maka kali ini di kota Tokyo aku bekerja dengan teman2 'nyama bali'. Kerja tak terasa berat karena sambil ber-canda senda gurau khas 'bali'.
Tempat kerja mirip bengkel yaitu hanya beratap tanpa dinding permanen. Baiknya adalah sambil bekerja aku masih bisa melihat 'pemandangan luar' LANGIT BIRU dan tidak merasa stress seperti kalau bekerja seharian di dalam pabrik tertutup dengan lampu neon 24 jam. Tapi akibatnya aku harus rela ber-panas2 matahari, ber-dingin2 dan ber-hujan2.
Saat bekerja aku menggunakan peralatan2 Palu, Kunci Inggeris/Spanner, Linggis, Cutter pemotong kawat besi, Drill listrik/Impact, dll. Pakaian seragam kerja selalu dipenuhi kotoran debu, oli, dan cat. Setelah berbagai macam pekerjaan 'aneh2' telah aku alami di Jepang 5 tahun ini, maka kali ini aku menjadi 'ANAK BENGKEL' di Tokyo.

