« July 2008 | Nyoman's Blog Top | September 2008 »

August 24, 2008

SELAMAT HARI GALUNGAN

20 Agustus ini adalah Hari Raya Galungan. Terasa sepi tanpa acara sembahyang ramai2 'maturan' ke pura dan tanpa santapan 'lungsuran tipat saur'. Namanya juga hidup di negeri orang. Yang bisa aku lakukan hanya sekedar sembahyang kecil2an yaitu 'macepan' di rumah untuk menghormati 'kunjungan' betara-betari leluhur ke dunia. Dengan sarana API dupa, AIR tirtha, BUNGA (yang aku petik di pinggir jalan saat pulang kerja) dan MANTRA.


Jadilah sembahyang berdua dengan isteriku di depan PELANGKIRAN di apartemen kami. Semoga betara-betari leluhur membimbing dan melindungi kami berdua dalam perjalanan hidup kami di dunia ini. Tentunya setelah itu malamnya aku menelpon orang tuaku di Bali untuk mengucapkan selamat hari raya.

August 17, 2008

SHINJUKU ART INFINITY 5 : Pameran URBAN ART Seni 'Bedeng'

Hari ini saat 'NATSU YASUMI' (=Summer Holiday/liburan musim panas) jalan2 di kawasan ramai tempat 'ngeceng' anak2 muda Jepang di SHINJUKU, aku menemukan sebuah 'pameran lukisan' unik. Unik karena lukisan2 dipajang di trotoir di dinding 'bedeng' proyek pembangunan pertokoan.



Walaupun di trotoir tapi kelihatan digarap serius lengkap dengan 'poster' pameran yang menyatakan pameran ini berjudul 'SHINJUKU ART INFINITY-5' (INFINITY=tak terhingga/tak berakhir) diselenggarakan oleh INSTITUTE OF CONTEMPORARY ART AND INTERNATIONAL CULTURAL EXCHANGE, TOKYO disponsori oleh TOKYO WONDERLAND dan Perusahaan Retail OIOI/MARUI. Jadi peserta pameran ini adalah para mahasiswa seni di Tokyo.



Mungkin konsep pameran ini adalah semacam Proyek Seni URBAN ART artinya seni tidak lagi merupakan barang 'sakral' di tempat khusus melainkan membaur di masyarakat perkotaan untuk dinikmati setiap orang serta sekaligus berfungsi estetis 'memanusiawikan' ruang2 kota yang kumuh dan telah menjadi 'hutan beton'.



Ternyata yang dipajang bukanlah lukisan aslinya melainkan reproduksi/copy-nya. Mungkin agar tidak digondol maling karena lukisan2 ini dipajang di luar setiap hari selama 4 bulan pameran tanpa dijaga petugas.

Pernah juga aku lihat TUNNEL ART yang merupakan MURAL (=lukisan dinding) di dinding TUNNEL (=jalan terowongan) yang juga digarap oleh para mahasiswa seni Jepang. Ada juga DAMBORU HOUSE ART PROJECT (= Proyek Seni Rumah Kardus) di pemukiman HOMELESS (=gelandangan) dekat Stasiun SHINJUKU oleh mahasiswa seni UNIVERSITAS TOKYO. Aku harap semoga proyek seni URBAN ART semacam ini bisa dilakukan juga di kota Jakarta atau Denpasar, Bali yang telah menjadi sumpek padat kumuh dan tidak manusiawi lagi.

OBONG : Hari Galungan ala Jepang

NATSU YASUMI (=summer holiday) biasanya bertepatan dengan Hari Raya OBONG dalam tradisi SHINTO Jepang. Pada hari ini diyakini bahwa para arwah leluhur dan anggota keluarga yang telah meninggal turun untuk mengunjungi sanak keluarga di dunia. Sehingga pada hari ini semua orang mudik pulang kampung dan pergi bersembahyang di OTERA atau JINJA (=kuil SHINTO) dan di O HAKA (=makam keluarga).



Di kota Tokyo ini aku lihat ada juga yang membuat sesaji persembahan khusus yang diletakkan di tanah di depan rumah, lengkap dengan dupa. Sehingga mirip hari raya GALUNGAN Hindu di Bali. Bedanya di Bali para arwah leluhur dipercaya turun ke dunia selama 10 hari (Galungan- Kuningan) sedangkan di Jepang selama sekitar 3 hari saja. Mungkin karena budaya jepang yang super sibuk dan tak punya waktu sehingga leluhur2 orang Jepang pun terpaksa harus cepat2 kembali ke nirwana. Saat hari OBONG aku dan isteriku selalu 'mudik' ke kampung isteriku di kota TOYOOKA. Tapi tahun ini berhubung kesibukan isteriku dengan 'proyek' di kantornya, kami tidak bisa mudik.

HANABI : Pesta Kembang Api Jepang

Malam minggu ini masih liburan musim panas, aku dan isteriku pergi menonton HANABI yaitu Pertunjukan Kembang Api Jepang. Kata isteriku, HANABI ini sudah menjadi TRADISI orang Jepang saat musim panas tiba dan telah ada saat isteriku masih anak2. Saat menonton HANABI, biasanya mereka mengenakan YUKATA (=kimono musim panas). HANABI diadakan dibeberapa tempat tertentu. Biasanya dekat sungai karena refleksi cahaya di atas air sungai terlihat indah.



Jadwal waktu dan tempatnya biasanya diumumkan pula di dalam kereta api yang padat penumpang. Untuk menonton aku dan isteri harus naik kereta api. Di kereta api dan di stasiun dipenuhi ratusan orang yang pergi menonton HANABI. Sebagian besar adalah pasangan anak2 muda. Maklum saja karena menonton kembang api HANABI dua2-an di malam minggu tentunya lumayan ROMANTIS. Apalagi kembang api-nya amat indah berwarna warni dan kreatip ber-macam2 bentuk ada yang mirip bunga, air mancur, komet bahkan mirip UFO, bintang galaksi atau planet, dll.



Kembang api-nya besar2 lengkap dengan suara dentuman ledakan yang lumayan bikin kaget. Diikuti oleh suara riuh 'Aaah.. Oooh..' penonton yang kegirangan. Sebenarnya biaya 1 buah kembang api ini cukup mahal. Karena itu biasanya ada sponsor dari lembaga atau perusahaan tertentu yang mendanai. Nama perusahaan sponsor ini biasanya diumumkan saat peluncuran kembang api. Semacam iklan pesan sponsor lah. Kalau dulu waktu di Ubud, Bali aku mengajak isteriku 'wakuncar' malam minggu nonton KUNANG-KUNANG di sawah, maka di kota Tokyo ini isteriku mengajak aku 'wakuncar' nonton kembang api HANABI di pinggir sungai.