« Buah Apel Jepang | Nyoman's Blog Top | Pelangkiran Jepang »

February 2, 2008

Ke Dokter Jepang

Ternyata benar pepatah SE-PANDAI2 TUPAI MELOMPAT AKHIRNYA JATUH JUGA. Aku yang 'pandai' melompat, eh berpengalaman naik sepeda motor akhirnya harus jatuh juga dari sepeda motor. Di negara Jepang ini sepeda motor adalah MINORITAS sedangkan mobil dan truk container besar 10 ton keatas adalah RAJA JALANAN, maka naik sepeda motor di jalanan Jepang penuh resiko. Harus meliak liuk diantara mobil2 dan truk2 container besar di jalanan. Memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi di jalan 'KOSOKU DORO' (jalan TOL Jepang) adalah biasa Sebenarnya aku selalu hati2 TIDAK SUKA NGEBUT. Apalagi aku tak punya ASURANSI, jadi kalau kecelakaan perlu biaya besar. Namun nasib dan cuaca buruk membuat aku mengalami kecelakaan 'ringan'. (>>Click READ MORE baca selanjutnya)



Ceritanya saat aku berangkat kerja pagi2 ke perusahaan. Di perjalanan saat memasuki jembatan panjang YAMASHIRO HASHI (Yamashiro Bridge), sepintas kulihat panel display temperatur udara di pinggir jembatan menunjukkan angka minus 3 derajat Celcius. Dan saat melihat ke permukaan jalan aspal jembatan di depanku, terlihat warna putih2 es beku di sana sini. Jembatan2 di Jepang berbahaya membeku saat musim dingin karena letaknya yang di atas permukaan tanah. Pada saat itulah sepeda motorku mulai ber-goyang2 me-nari2 sampai akhirnya selip dan rebah pada sisi kiriku. Karena licinnya es, sepeda motor tak langsung berhenti tapi terus meluncur menabrak beton trotoir sebelah kiri jembatan. Saat itu kurasakan sakit pada tulang kering kaki kiriku. Tapi tak kuhiraukan karena harus segera berdiri dan mengangkat motorku sebab takut ditabrak mobil dari belakang. Sambil menahan sakit kutuntun sepeda motor sampai ujung jembatan. Aku hidupkan dan kukendarai lagi sampai perusahaan.

Yamashiro Bridge


Di perusahaan, mungkin karena suasana kerja, rasa sakit di kaki kiriku tak terlalu kurasakan. Tapi pulang kerja sampai di rumah tulang kering kaki kiriku membengkak besar terasa sakit sekali. Isteriku yang kuatir memaksaku pergi ke dokter. Akhirnya aku pergi sendiri ke KLINIK dokter. Seperti umumnya tempat praktek dokter Jepang, saat masuk harus melepas sepatu dan mengganti dengan 'SURIPAA' (sandal SLIPPER) yang telah disediakan. Memang orang Jepang punya budaya bersih. Per-tama2 aku harus mendaftar di 'UKETSUKE' (Loket Resepsionis) dan menunggu panggilan. Di ruang praktek dokter saat konsultasi, antara dokter dan pasien tidak dipisahkan meja besar mengkilap seperti dokter di Indonesia, melainkan duduk dekat berhadapan sehingga dokter bisa 'ngobrol' dekat dan melihat jelas kondisi seluruh tubuh pasien. Di atas meja dokter ada peralatan canggih KOMPUTER LAPTOP dan MONITOR DISPLAY RONTGEN. Juga ada 1 atau 2 orang perawat wanita .


Klinik Dokter Jepang

Aku perhatikan dokternya seperti mau sekali ber-bahasa inggeris. Mungkin karena aku 'GAIJIN' (Orang Asing) atau jenuh saja karena kerja dokter Jepang sekarang banyak mengurusi pasien orang2 tua Jepang kaya yang pura2 sakit. (Karena standar hidup meningkat, mayoritas penduduk Jepang sekarang orang lanjut usia hingga menjadi problem negara). Jadi aku barengi 'NGOBROL' inggris agar dokternya senang dan 'KASI HARGA MURAH'. Lalu tulang kering kaki kiriku di-'RONTGEN'. RUANG RONTGEN dihubungkan komputer ke MONITOR DISPLAY di meja dokter sehingga hasil RONTGEN bisa langsung terlihat dokter dan diperiksa saat itu juga. Ternyata tak ada retak di tulang keringku hanya perlu waktu penyembuhan. Dokter memberi resep obat untuk dibeli di 'DORAGUSUTOA' (DRUGSTORE Apotik Jepang). Sebelum pulang tak lupa aku 'promosi' memberikan kartu nama 'seniman'ku sebab dokter Jepang biasanya kaya raya senang mengkoleksi karya seni. Di 'UKETSUKE' (Loket Resepsionis) aku membayar biaya periksa hanya 2000 yen (sekitar Rp 150.000). Mungkin karena dokternya senang.


Nota Dokter Klinik

Bisa sedikit ber-bahasa inggris di negara Jepang yang semuanya ber-bahasa Jepang hurup KANJI ini ada manfaatnya juga.

Comments