Tahun Baru Jepang
SELAMAT TAHUN BARU 2008
'OSHIOGATSU' (tahun baru) adalah saat penting untuk orang Jepang. Mereka pulang mudik ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga merayakan pergantian tahun. Sehingga selalu terjadi 'RASSYU' (RUSH arus padat macet mirip arus mudik lebaran). Termasuk aku dan istri pulang mudik ke kampung istriku di kota Toyooka, (prefektur Hyogo) di pesisir utara dekat 'NIHON KAI'(Laut Jepang). Kebetulan hari terakhir aku bekerja hari Minggu tgl 30 Des. sehingga kami baru bisa libur mudik keesokan harinya tgl 31 Des.
Berangkat dari rumah dengan 'DENSHA'(kereta api) 20 mnt sampai Kyoto Eki(Stasiun Kyoto). Di Stasiun Kyoto kami membeli 'KIPPU'(tiket) KA jurusan luar kota seharga 2500 yen. Di peron keberangkatan antrean panjang penumpang telah menunggu. Tapi dasar manusia Jepang semua tahu diri tertib antri masuk satu satu mirip semut. Lain benar dengan manusia Indonesia yang pandai serobot sana sini senggol sana sini sampai nenek2 bergelimpangan bayi2 menjerit-jerit. Sampai di dalam gerbong, kursi telah penuh apalagi tiket kami untuk gerbong 'JIUSEKI'(NON-RESERVED atau tempat duduk bebas). Mungkin artinya bebas berdiri . Jadilah kami berdiri sambil lihat2 kesempatan duduk kalau ada orang turun di stasiun berikut atau mungkin aku sandera 1 orang agar minimal istriku bisa duduk sejenak. Kulewatkan waktu melihat pemandangan lewat jendela. (>>Click READ MORE baca selanjutnya)![]()
Selanjutnya mengobrol bersama (artinya aku di 'interogasi' tentang pekerjaan,dll.) hingga saat makan malam tiba. Makan malam akhir tahun selalu istimewa dengan 'BIRU'(bir) dan 'SAKE'(arak Jepang). Jadi di malam tahun baru kami semua setengah mabuk namun pembicaraan jadi 'lancar' karena semua orang santai tidak sungkan2 lagi - walaupun aku jadi'uyeng2an' karena jarang2 ketemu alkohol. Pagi harinya hari pertama tahun baru aku bangun dalam udara dingin. Seperti kebiasaan di Bali saat tahun baru Hindu SAKA, aku ingin melihat matahari pagi pertama tahun baru. Sebab buat aku itu artinya awal yang baru dan kesempatan baru. Namun terkejut aku melihat keluar jendela semua putih diselimuti salju. Butir2 salju turun deras mirip bulu angsa jatuh dari langit. Kuambil topi dan jaket keluar berjalan di tengah hujan salju. Rumah mertuaku di kaki bukit, sehingga pemandangan putih gunung dan hutan diselimuti salju tampak indah.
Suara salju berderik terinjak kakiku. Terkadang tinggi salju mencapai lututku. Kudengar pula suara gumpalan salju jatuh dari ranting pohon ke atas tanah. Walau naluri senimanku mewajibkan aku lebih lama mengapresiasi keindahan alam dunia putih ini namun udara dingin dan sakit kepalaku akibat SAKE semalam membuatku lari ter-birit2 kembali masuk ke rumah. ' 'Apresiasi seni' aku lanjutkan dari dalam rumah lewat jendela sambil menyeruput teh jepang panas.
Makan pagi pertama tahun baru di keluarga istriku selalu diawali dengan ucapan 'AKEMASHITE OMEDETO GOZAIMASU' (selamat tahun baru) dan 'KOTOSHI MO YOROSHIKU ONEGAI SHIMASU' (di tahun baru ini pun mohon perkenan dan bantuannya). Dilanjutkan 'upacara ritual' minum SAKE dituang diatas sebuah cawan lepekan(ceper) diseruput diminum bergiliran dari cawan yang sama dimulai dari ayah mertuaku. Aku suka 'upacara' ini karena maknanya dalam dan rasa SAKE enak menghangatkan badan di pagi dingin. Dilanjutkan makan 'ZENZAI' (MOCI atau kue ketan dalam sup kacang merah). Diikuti kemudian makanan tradisional 'OSECHI RYORI'(makanan khusus tahun baru).
Selesai makan ibu mertua dan isteriku membuat 'SHIMENAWA' dari buah jeruk dan sejenis daun dari gunung diikat anyaman batang padi untuk disimpan di altar persembahyangan rumah menurut tradisi kepercayaan SHINTO Jepang. 'SHIMENAWA' ini digantung pula di pintu depan rumah dan di kendaraan.
Setelah itu kami pergi melakukan 'HATSUMODE' (persembahyangan tahun baru) di 'JINJA' (kuil Shinto) di tengah hujan salju.
Walaupun agamaku Hindu, merayakan tahun baru dengan tradisi ritual SHINTO Jepang membuat liburan pergantian tahun menjadi sedikit 'spiritual'. Mungkin karena hadirnya SAKE yang beraroma 'spiritus'.


Comments
Wah menarik sekali ceritanya bli Nyoman!! Wajah bli Nyoman kayak orang Jepang ya?!
Posted by: Agung Krishna | January 16, 2008 5:07 PM
agung, apa kabar? terima kasih komentarnya.
mengenai wajahku, ya kadang2 aku menyamar
jadi orang jepang. jadi mata2 mengumpulkan
informasi rahasia, he he. salam.
Posted by: nyoman yudhanegara | January 16, 2008 10:24 PM
Ceritain dong bli Nyoman gimana awalnya bisa nyampe ke Jepang. Trus gimana suka duka hidup di Jepang. Oh ya, saya suka sekali dengan hasil karya lukisan bli Nyoman. Bagus sekali! Apalagi dengan lukisan yang berjudul "Talking To A Stone", wah saya jadi merinding...hii. Kebetulan saya suka lukisan abstrak dan pengen belajar melukis.
Posted by: Agung Krishna | January 17, 2008 11:30 AM
karena nasib. karena bumi berputar.
hidup dimanapun sama saja. untuk dilakoni bukan dikomplin. agung, selamat melukis semoga dinikmati.
Posted by: nyoman yudhanegara | January 20, 2008 4:35 PM
wahhh....enak nya.oh y saya bs minta tlg ga?tolong donk apa saja yang anda ketahui tentang cha do?saya butuh data2 lengkap nya tentang cha do nih.soalnya untuk keperluan skripsi jg.tolong ya di kirim ke email saya.sebelum dan sesudah nya saya ucapkan domo arigato gozaimasu
Posted by: terez | February 13, 2008 3:25 AM
Waah, aku tdk ngerti Chado. Cuma pernah kerja di pabrik teh Jepang. Seingatku, kata bekas boss-ku di pabrik teh, CHADO (The Way of Tea atau Filsafat Teh. Dari 'CHA'= 'Teh' dan akhiran 'DO' ='pencarian spiritual utk mencapai esensi'))adalah seni tradisional Jepang yg berhubungan dg ajaran ZEN mashab RINZAI yaitu pencapaian 'SATORI' (enlightenment atau pencerahan) melalui meditasi.
Methode CHADO dipopulerkan Guru Besar (Master) Sen Rikyu 400 tahun lalu. Mencakup semua seni, estetika, dan filosofi Jepang, CHADO punya 4 prinsip: harmoni, penghargaan, kesucian dan kedamaian.
CHADO adalah seni mempersiapkan, mempersembahkan dan menerima semangkuk teh dg kesungguhan hati, penghargaan, serta pemusatan perhatian dan melalui ritualisasi estetis meng'elevasi'nya ke bentuk seni tingkat tinggi utk pencerahan spiritual sbg dasar pandangan hidup(Way of Life). Chado lebih menekankan proses daripada hasil, dan pengembangan kepekaan utk menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan dan belajar menghargai kesederhanaan.
Posted by: nyoman yudhanegara | February 18, 2008 1:08 AM