June 15, 2009

Exhibition Of The Painting Mask At Omotesando Hills Tokyo - GALLERY 80

9 - 14 Juni atas bantuan teman aku ikut berpameran lukisan di GALLERY 80, Omotesando Hills, Tokyo. OMOTESANDO adalah kawasan ramai pusat bisnis FASHION terletak di daerah HARAJUKU, Tokyo. Pameran terselenggara atas manajemen WAI WAI GAYA GAYA. Peserta pameran adalah seniman2 Jepang dan aku diundang sebagai seniman tamu.

















Saat persiapan pameran aku minta libur 2 hari dari perusahaan tempat kerjaku, untuk mengatur display lukisan dan untuk hadir di pembukaan pameran. Tentunya aku dimarahi oleh Boss-ku karena libur 2 hari. Namun apa boleh buat ini demi seni. Persiapan pameran harus aku lakukan sendiri. Lukisan2 berukuran 1m x 1m aku bungkus karton lalu aku bawa berjalan 1 km dari apartemen tempat tinggalku ke stasiun Kereta Api (kalau menyewa mobil/taxi lumayan mahal) lalu naik kereta api ke Omotesando, Harajuku. Yang penting ngirit biaya.

















Pada saat pameran aku sertakan juga sketsa2 dan koleksi drawing-ku. termasuk catatan harian dan kumpulan puisi-ku yang mendapat respon lumayan dari pengunjung pameran.

















Salah seorang seniman Jepang peserta pameran bernama TAIZO menggelar karya Video Art berjudul 'WITH ME' dan karya patung INSTALASI dari bahan pet botol plastik bekas. Karya ini menarik dengan ide kreatif daur ulang/recycle dan imajinatif . Taizo sendiri sebenarnya adalah seniman ILLUSTRATOR dan penggemar sepakbola.

February 11, 2009

Selamat Tahun Baru 2009

Selamat Tahun Baru 2009. Mungkin harus tetap optimis di tengah krisis ekonomi global morat-marit . Sebab orang bilang sebenarnya di dunia ini tak ada peristiwa yang baru . Yang ada hanyalah sejarah yang berulang. Juga wajar kalau Wall Street ambruk sebab mereka maling2 kapitalis pongah pake uang orang untuk cari uang. Jadi tak ada yang perlu di-heran2kan apalagi di-pikir2kan. Dijalani saja. Yang penting ber-hati2 agar aman dan selamat. Yang jelas saat ini Jepang sedang musim dingin. Jadi kalau keluar rumah pakai pakaian ber-lapis. Plus topi wool, syal penghangat leher atau penutup kuping. Ribet. Itupun masih terasa dingin karena angin dingin bertiup menembus tulang. Terutama saat menunggu kereta pagi di stasiun. Jadi harus lari2 di tempat agar sedikit jadi hangat. Repot.

November 30, 2008

Pameran Seni Kontemporer : YOKOHAMA TRIENNALE

Hari Minggu lalu aku pergi 'menonton' pameran seni kontemporer internasional 'YOKOHAMA TRIENNALE 2008 - TIME CREVASSE' di kota pelabuhan Yokohama. Tiket masuknya seharga 1500 yen. Pameran tiga tahunan terbesar di Jepang khusus untuk seni kontemporer ini bertema 'TIME CREVASSE' (=celah waktu) yang mempertanyakan konsep waktu yang se-olah2 linear yang merupakan ekses modernisasi.



Globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang amat cepat telah 'menelan' dunia dan membuat ruang dan waktu tidak lagi linear (mengikuti garis lurus) melainkan 'mengembang' dan saling berbenturan sehingga terbentuk retakan/celah waktu (= TIME CREVASSE). Dengan 'Yokohama Triennale' ini diharapkan pengunjung bisa keluar sejenak dari 'realitas semu' hidup keseharian untuk melihat ke kedalaman 'celah waktu' ini untuk menemukan kembali makna kebenaran.



Wajar saja kalau seniman2 kontemporer yang terpilih oleh dewan kurator pameran ini adalah seniman2 yang menggunakan tubuh sebagai media expressi (Body Art Performance), karena tubuh dianggap sensitif terhadap pengaruh waktu. Misalnya seniman Jerman Jonathan Messe dengan karya Instalasi Multi-Media berjudul 'DICTATORSHIP OF ART' dengan atraksi 'oratoris' di atas podium. Seniman Mexico Pedro Reyes dengan karya Video Art 'menyentil dan lucu' berjudul 'BABY MARX' menggunakan boneka2 (mirip Wayang Golek) tokoh Karl Marx, Lenin, Mao Tse Tung, dll.





Seniman USA asal Jepang Yoko Ono (janda Ex-BEATLES John Lennon) dengan karya Video Art berjudul 'CUT PIECE' menggunakan tubuhnya sendiri sebagai media expresi. Seorang asisten wanita sepotong demi sepotong menggunting gaun hitam yang dikenakan Yoko Ono hingga akhirnya tubuh putih mulusnya telanjang bulat. Katanya sih konsepnya adalah 'Freedom' (=kebebasan) dan 'Peace' (=perdamaian).

Yang mengejutkan adalah seniman kontemporer Indonesia Kuswidananto a.k.a Jompet asal Yogyakarta menarik perhatian pengunjung dengan Video Instalasi penuh humor dan pesan berjudul 'JAVA AMPLIFIED' menggunakan 'orang2an' berkostum prajurit istana keraton Yogyakarta tanpa badan membawa genderang dan dihubungkan ke peralatan komputer dan speaker serta video dengan dasar tradisi budaya Jawa mempertanyakan kembali hubungan antar manusia dalam komunitas masyarakat modern.







Pameran besar seni kontemporer 70 seniman berbagai negara dengan dewan kurator internasional ini diadakan di dalam gedung yang sebenarnya merupakan gudang (WAREHOUSE) dermaga pelabuhan Yokohama namun telah 'dipermak' direnovasi menjadi tempat pameran yang amat representatif untuk seni kontemporer.

October 21, 2008

MORI Art Museum Tokyo

Karena merupakan ibukota Jepang, maka tentu saja kota metropolitan Tokyo adalah pusatnya Jepang. Termasuk aktivitas2 serta event2 kesenian internasional pun berpusat di kota Tokyo. Inilah salah satu alasan aku dan isteriku memutuskan pindah ke kota Tokyo. Di kota Tokyo banyak terdapat museum seni dan gallery besar yang sering menyelenggarakan pameran seni kontemporer internasional yang bagus2 yang kadang2 aku kunjungi saat hari libur kerja. Isteriku-pun tak ingin aku melupakan 'kodrat'-ku sebagai seniman meskipun sibuk bekerja 'maburuh' di Jepang. Akhir Minggu lalu aku dan isteriku mengunjungi pameran seni kontemporer oleh seniman Perancis Annette Messager di MORI Art Museum, yang terletak di lantai 52 gedung Mori Tower, Roppongi Hills, Tokyo.



Mori Art Museum adalah Museum Seni dengan konsep modern dan khusus memamerkan karya2 seni KONTEMPORER atau AVANT GARD. Selain pameran, biasanya diadakan pula ceramah2 seni serta kegiatan2 proyek kesenian lainnya. Annette Messager adalah seniman instalasi asal Perancis yang karya seni instalasinya memenangkan penghargaan 'GOLDEN LION' Award di Venesia Art Biennale 2005. Jadi dengan harga tiket 'murah' 1500 yen aku bisa menikmati pameran seni kontemporer yang bagus dan memperoleh informasi perkembangan terakhir dunia seni modern dan menambah wawasan cakrawala kesenianku. Serta bisa sejenak melupakan hiruk pikuk kerja 'rodi' di Jepang. Selesai menonton pameran, aku dan isteriku menikmati 'Tokyo City View' yaitu pemandangan 360 derajat ke seluruh kota Tokyo dari lantai 53 gedung Mori Tower, Tokyo.



September 28, 2008

Kerja di Jepang 5 : Jadi ANAK BENGKEL di Tokyo

Saat ini aku dan isteriku tinggal di daerah Kanagawa, dekat kota Tokyo. Isteriku bekerja sebagai WEB-Designer di daerah Shibuya, Tokyo. Aku sendiri bekerja di perusahaan yang bidang usahanya adalah 'ASHIBAYASAN' (=SCAFFOLDING-RENTAL/Penyewaan Alat2 PERANCAH BANGUNAN) terletak di daerah Kawasaki. Perusahaan cukup besar dengan cabang2 perusahaan (Center) ada di Sendai, Niigata, Nagoya, dll.



Peralatan SCAFFOLDING (Perancah Bangunan) yang disewakan ber-macam2 ukuran dan bentuk serta kegunaan, yang semuanya terbuat dari pelat besi dan pipa besi serta aluminium. Truk2 besar milik perusahaan dan juga truk2 milik perusahaan 'GEMBA' (=DEVELOPER/Konstruksi) penyewa alat2 SCAFFOLDING datang tiap hari memuat atau menurunkan peralatan SCAFFOLDING yang akan disewa atau yang akan dikembalikan. Peralatan SCAFFOLDING yang telah dikembalikan akan di-cek, diperbaiki dan di-servis untuk disewakan lagi. Jam kerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore tapi biasanya lembur hingga jam 7 malam. Hari Sabtu pun adalah hari kerja sehingga hari Minggu saja libur. Karena harus 3x naik dan pindah kereta api, maka biasanya aku bangun pagi jam 5:30 dan berangkat kerja jam 6:15. Pulang kerja sampai di rumah sekitar jam 9 malam.











Scaffolding



Pekerjaanku sebenarnya adalah di bagian 'SEBI' (=MAINTENANCE/Perawatan dan Pengecekan) alat2 Scaffolding. Tapi karena saat ini perusahaan kekurangan pekerja maka aku juga 'dipekerjakan' di bagian 'KASUNASI' (=Pendataan barang2 dengan alat 'SENSOR' dan Komputer) serta sebagai 'FORKMAN' (Mengemudi kendaraan FORKLIFT). Pekerjaan 'SEBI' (Maintenance/Perawatan) memerlukan kekuatan fisik karena mengangkat dan men-servis peralatan Scaffolding yang lumayan berat berbentuk pelat dan pipa besi berukuran besar. Pekerjaan 'KASUNASI' (=Pendataan barang2) memerlukan pengetahuan membaca dan menulis hurup KANJI Jepang serta menghapal nama2 dan nomor2 kode barang2.



Pekerjaan sebagai 'FORKMAN' (Mengemudi kendaraan FORKLIFT) aku harus mengenakan HELMET (Topi Helm Pengaman) untuk menghindari kecelakaan kerja saat mengemudi kendaraan FORKLIFT untuk mengangkut barang2 SCAFFOLDING yang berat2.



Para pekerja terdiri dari orang2 JEPANG, AFRIKA(Nigeria, Ghana, Guinea), PHILIPPINE, INDIA, serta 8 orang INDONESIA. Tentu saja bahasa se-hari2 adalah bahasa JEPANG tetapi karena pekerja2 asal Afrika berbahasa INGGERIS dan PERANCIS di antara mereka, maka aku pun ikut2an kadang2 ber-bahasa INGGERIS dan PERANCIS dengan mereka. Sekedar 'MILU2 BAWANG'. Pekerja2 Indonesia 7 orang berasal dari BALI ( asal Ubud, Karangasem, Negara, Singaraja, Sanur) dan 1 orang asal Sumatera Utara.



Setelah 5 tahun di kota Kyoto bekerja di perusahaan yang pekerjanya orang2 Jepang semua sehingga sering 'kesepian', maka kali ini di kota Tokyo aku bekerja dengan teman2 'nyama bali'. Kerja tak terasa berat karena sambil ber-canda senda gurau khas 'bali'. Apalagi kelompok 'nyama bali' lumayan kompak dan saling bantu saat bekerja.

Tempat kerja mirip bengkel yaitu hanya beratap tanpa dinding permanen. Baiknya adalah sambil bekerja aku masih bisa melihat 'pemandangan luar' LANGIT BIRU dan tidak merasa stress seperti kalau bekerja seharian di dalam pabrik tertutup dengan lampu neon 24 jam. Tapi akibatnya aku harus rela ber-panas2 matahari, ber-dingin2 dan ber-hujan2.



Saat bekerja aku menggunakan peralatan2 Palu, Kunci Inggeris/Spanner, Linggis, Cutter pemotong kawat besi, Drill listrik/Impact, dll. Pakaian seragam kerja selalu dipenuhi kotoran debu, oli, dan cat. Setelah berbagai macam pekerjaan 'aneh2' telah aku alami di Jepang 5 tahun ini, maka kali ini aku menjadi 'ANAK BENGKEL' di Tokyo.

September 27, 2008

Tanah Longsor Jepang

Sejak pindah dari kota Kyoto, aku dan isteriku menetap dan bekerja di daerah Kanagawa, dekat kota Tokyo. Kami tinggal di apartement tua 2 kamar dengan sewa 55.000 yen per bulan. Akhir2 ini di daerah Tokyo dan sekitarnya setiap hari turun hujan lebat. Sebenarnya 'TSUYU' (=musim hujan Jepang) bulan Juni sudah lewat. Tetapi mungkin akibat 'CHIKYUU ONDANKA' (=penipisan ozon) dan 'GLOBAL CLIMATE CHANGE' (=perubahan cuaca dunia) cuaca pun jadi angin2an tidak menentu. Ditambah datangnya 'TAIFU' (=angin topan Jepang). Asal tahu saja daratan Jepang sering dilewati angin TOPAN 'iseng' yang datang dari arah 'TAIHEIYOU' (=Lautan Pasifik) di Selatan menuju daratan KOREA di Utara. Angin topan Jepang ini diberi nama sesuai nomor urut kedatangannya dalam periode setahun, misalnya TAIFU 'NI-GO' (=topan ke-2), TAIFU 'HACHI-GO' (=topan ke-8), dst. Saking seringnya datang malah ada yang dinamai TAIFU 'NIJU-GO' (=topan ke-20).



Hari Minggu lalu pun turun hujan lebat seharian dari pagi hingga malam. Tengah malam cuaca memburuk hujan makin lebat dengan petir dan halilintar sambung menyambung ramai-ramai. Waktu itulah terjadi 'KUZURE' (=tanah longsor) tebing bukit di jalan depan apartement tempat tinggalku. Meskipun tidak ada korban manusia, tapi timbunan bukit longsor menutupi jalan dan merusakkan dinding depan rumah sebelah serta 2 buah mobil yang sedang parkir di pinggir jalan. Ngeri juga karena terjadi hanya 20 m dari kamar apartemenku. Esok paginya saat berangkat kerja, jalan depan rumahku dipenuhi gundukan tanah bukit setinggi rumah lengkap dengan tumbangan pohon2 besar.



Para pekerja berdatangan ramai2 hiruk pikuk dengan buldozer dan crane serta gergaji mesin membersihkan longsoran dan pohon2 tumbang. Karena kebetulan punya hobby mendaki gunung, sebenarnya aku ingin 'mendaki' timbunan bukit longsor Jepang ini tapi di-larang2 petugas berseragam PU pemerintah yang 'mengusir' aku sambil ber-teriak2 'ABUNAI!!ABUNAI!!' (=Bahaya!Bahaya!). Jadilah aku berangkat kerja berjalan memutar memakai jalan lain. Tapi dasar orang Jepang rajin2 dan cepat bekerja, saat aku pulang kerja malam harinya longsoran tanah sudah dibersihkan dan tebing bukit yang runtuh telah ditutupi 'BURU-SITTO (=BLUE SHEET/terpal pengaman plastik berwarna biru).

August 24, 2008

SELAMAT HARI GALUNGAN

20 Agustus ini adalah Hari Raya Galungan. Terasa sepi tanpa acara sembahyang ramai2 'maturan' ke pura dan tanpa santapan 'lungsuran tipat saur'. Namanya juga hidup di negeri orang. Yang bisa aku lakukan hanya sekedar sembahyang kecil2an yaitu 'macepan' di rumah untuk menghormati 'kunjungan' betara-betari leluhur ke dunia. Dengan sarana API dupa, AIR tirtha, BUNGA (yang aku petik di pinggir jalan saat pulang kerja) dan MANTRA.


Jadilah sembahyang berdua dengan isteriku di depan PELANGKIRAN di apartemen kami. Semoga betara-betari leluhur membimbing dan melindungi kami berdua dalam perjalanan hidup kami di dunia ini. Tentunya setelah itu malamnya aku menelpon orang tuaku di Bali untuk mengucapkan selamat hari raya.

August 17, 2008

SHINJUKU ART INFINITY 5 : Pameran URBAN ART Seni 'Bedeng'

Hari ini saat 'NATSU YASUMI' (=Summer Holiday/liburan musim panas) jalan2 di kawasan ramai tempat 'ngeceng' anak2 muda Jepang di SHINJUKU, aku menemukan sebuah 'pameran lukisan' unik. Unik karena lukisan2 dipajang di trotoir di dinding 'bedeng' proyek pembangunan pertokoan.



Walaupun di trotoir tapi kelihatan digarap serius lengkap dengan 'poster' pameran yang menyatakan pameran ini berjudul 'SHINJUKU ART INFINITY-5' (INFINITY=tak terhingga/tak berakhir) diselenggarakan oleh INSTITUTE OF CONTEMPORARY ART AND INTERNATIONAL CULTURAL EXCHANGE, TOKYO disponsori oleh TOKYO WONDERLAND dan Perusahaan Retail OIOI/MARUI. Jadi peserta pameran ini adalah para mahasiswa seni di Tokyo.



Mungkin konsep pameran ini adalah semacam Proyek Seni URBAN ART artinya seni tidak lagi merupakan barang 'sakral' di tempat khusus melainkan membaur di masyarakat perkotaan untuk dinikmati setiap orang serta sekaligus berfungsi estetis 'memanusiawikan' ruang2 kota yang kumuh dan telah menjadi 'hutan beton'.



Ternyata yang dipajang bukanlah lukisan aslinya melainkan reproduksi/copy-nya. Mungkin agar tidak digondol maling karena lukisan2 ini dipajang di luar setiap hari selama 4 bulan pameran tanpa dijaga petugas.

Pernah juga aku lihat TUNNEL ART yang merupakan MURAL (=lukisan dinding) di dinding TUNNEL (=jalan terowongan) yang juga digarap oleh para mahasiswa seni Jepang. Ada juga DAMBORU HOUSE ART PROJECT (= Proyek Seni Rumah Kardus) di pemukiman HOMELESS (=gelandangan) dekat Stasiun SHINJUKU oleh mahasiswa seni UNIVERSITAS TOKYO. Aku harap semoga proyek seni URBAN ART semacam ini bisa dilakukan juga di kota Jakarta atau Denpasar, Bali yang telah menjadi sumpek padat kumuh dan tidak manusiawi lagi.

OBONG : Hari Galungan ala Jepang

NATSU YASUMI (=summer holiday) biasanya bertepatan dengan Hari Raya OBONG dalam tradisi SHINTO Jepang. Pada hari ini diyakini bahwa para arwah leluhur dan anggota keluarga yang telah meninggal turun untuk mengunjungi sanak keluarga di dunia. Sehingga pada hari ini semua orang mudik pulang kampung dan pergi bersembahyang di OTERA atau JINJA (=kuil SHINTO) dan di O HAKA (=makam keluarga).



Di kota Tokyo ini aku lihat ada juga yang membuat sesaji persembahan khusus yang diletakkan di tanah di depan rumah, lengkap dengan dupa. Sehingga mirip hari raya GALUNGAN Hindu di Bali. Bedanya di Bali para arwah leluhur dipercaya turun ke dunia selama 10 hari (Galungan- Kuningan) sedangkan di Jepang selama sekitar 3 hari saja. Mungkin karena budaya jepang yang super sibuk dan tak punya waktu sehingga leluhur2 orang Jepang pun terpaksa harus cepat2 kembali ke nirwana. Saat hari OBONG aku dan isteriku selalu 'mudik' ke kampung isteriku di kota TOYOOKA. Tapi tahun ini berhubung kesibukan isteriku dengan 'proyek' di kantornya, kami tidak bisa mudik.

HANABI : Pesta Kembang Api Jepang

Malam minggu ini masih liburan musim panas, aku dan isteriku pergi menonton HANABI yaitu Pertunjukan Kembang Api Jepang. Kata isteriku, HANABI ini sudah menjadi TRADISI orang Jepang saat musim panas tiba dan telah ada saat isteriku masih anak2. Saat menonton HANABI, biasanya mereka mengenakan YUKATA (=kimono musim panas). HANABI diadakan dibeberapa tempat tertentu. Biasanya dekat sungai karena refleksi cahaya di atas air sungai terlihat indah.



Jadwal waktu dan tempatnya biasanya diumumkan pula di dalam kereta api yang padat penumpang. Untuk menonton aku dan isteri harus naik kereta api. Di kereta api dan di stasiun dipenuhi ratusan orang yang pergi menonton HANABI. Sebagian besar adalah pasangan anak2 muda. Maklum saja karena menonton kembang api HANABI dua2-an di malam minggu tentunya lumayan ROMANTIS. Apalagi kembang api-nya amat indah berwarna warni dan kreatip ber-macam2 bentuk ada yang mirip bunga, air mancur, komet bahkan mirip UFO, bintang galaksi atau planet, dll.



Kembang api-nya besar2 lengkap dengan suara dentuman ledakan yang lumayan bikin kaget. Diikuti oleh suara riuh 'Aaah.. Oooh..' penonton yang kegirangan. Sebenarnya biaya 1 buah kembang api ini cukup mahal. Karena itu biasanya ada sponsor dari lembaga atau perusahaan tertentu yang mendanai. Nama perusahaan sponsor ini biasanya diumumkan saat peluncuran kembang api. Semacam iklan pesan sponsor lah. Kalau dulu waktu di Ubud, Bali aku mengajak isteriku 'wakuncar' malam minggu nonton KUNANG-KUNANG di sawah, maka di kota Tokyo ini isteriku mengajak aku 'wakuncar' nonton kembang api HANABI di pinggir sungai.